Wawasan VS Materi

 

Lagi nunggu dosen, di depan ruang dosen itu banyak sekali mahasiswa yang lalu lalang. Mahasiswa itu ngerasa aneh liat saya. Apa mungkin mereka baru pertama kali lihat saya bawa map untuk konsultasi skripsi. Lihat baju sendiri biasa aja. Ah saya tahu penyebabnya mungkin rambut yang acak-acakan jadi penyebabnya, rambut mirip kayak orang baru bangun tidur. Tapi lebih tepatnya mereka menemukan hal baru yaitu salah satu bentuk fisik alien ternyata juga punya rambut. Ya segitu negatifnya pikiran saya.


Sambil berfikir yang aneh aneh. Saya disapa oleh tiga orang teman saya, dan lebih tepatnya teman tegur sapa. Pernah kenalan juga enggak cuma karna satu pembimbing dosen jadi kita saling tegur sapa. Cie. Tapi itu cowok. Gak tau kenapa kita yang lagi nyusun skripsi itu sangat ramah dengan teman-teman yang lagi nyusun skripsi juga. Kita ngerasa senasip sependeritaan.
Seperti biasanya kalau sudah ketemu teman yang juga sama-sama nyusun skripsi, hal pertama yang ditanyakannya adalah "Sudah bab berapa". Dari pengamatan nyunsun skripsi dari outline sampai bab yang sudah tidak jelas bentuknya. Bahwa saya menemukan meraka yang sering nanyak "sudah bab berapa" adalah meraka yang baru nyusun skripsi atau bahkan baru judulnya saja. Dan itu pengalaman, ternyata saya dulu nanyak tentang "sudah bab berapa" adalah tindakan yang menyinggung hati. Karna saya ngerasa apa yang dirasakan kakak tingkat dulu sepertinya sama. Jadi kalau ada yang kepo "sudah bab berapa"jawabanya macam-macam. Ada yang jawab sudah sampai BABak belur, keBABlasan dan bahkan menjawab dengan senyuman.
Sampailah pada meraka bertiga ngomongin skripsi mereka masing-masing. Ada yang senangnya minta ampun, baru pertama kali ngajuin judul skripsi langsung diterima. Ada juga yang tiga kali ngajuin judul skripsi baru diterima dengan syarat prosedur penelitian sesuai dengan saran dosen pembimbing.
Saya hanya mendengerkan saja percakapan mereka. Namun ada yang menarik bagi saya tentang percakapan mereka yang bertemakan uang dan wawasan. Salah satu dari mereka bilang kalau temannya itu bilang kalau enak sudah kerja, dan bertanya besar gak gaji disana. Dan temannya satunya lagi itu emang kerja ditoko. Teman yang kerja di toko tadi langsung ngejawab temannya. "Sekarang bukan masalah besar gajinya, tapi sekarang cari duit itu susah". dijawab temannya kalau "kalau aku sih wawasan dulu sih".
Nah sebelum saya melanjutkan ceritanya, pasti pada bingung dengan percakapan diatas. Jelas bingung yak, si teman nanyak, di jawab teman, dan disanggah teman. Anehkan.
Jadi gini ada 4 mahasisa(salah satunya saya sendiri) yang lagi ngobrol. Dari ke-empat orang itu dua orang yang aktif ngobrol. Satunya, dia jadi pendengar yang baik. Sedangkan saya jadi pendengar yang iya iya'an. Ke empat orang itu adalah si A, si B, si C, saya. Ya kira-kira gini percakapannya.
Si A : eh, sekarang kamu udah kerja di toko toserbasabasi, enak ya, gajinya besar gak. "sambil memandang si B.
Si B : Sekarng gini boy, bukan masalah besar gajinya, tapi masalahnya, cari duit sekarang itu susah boy. "menjawab dengan mendongak ke atas, karna emang si A lebih tinggi dari si B."
Si A : kalau aku sih wawasan dulu, soalnya rejeki ndak lari kamana. (entah kenapa tiba-tiba ngomongin ini)
Si C : (menggangguk seakan benar-benar menghayati kata-kata si A, mungkin dia ngerasa pernyataan itu "gue banget").
Saya : (masih mencoba menyimak percakapan)
Si B langsung nyolot ngejawab pernyataan si A.
Si B :  Berarti pola pikir kau belom sampai boy..
Tiba-tiba mereka menyudahai percakapan mereka karna dosen pembimbing kami sudah selesai mengajar itu artinya kami bisa konsultasi.
Dari percakapan mereka di atas. Sepertinya mereka memang teman dekat karna perdebatan mereka mengalir begitu saja, tanpa canggung dan tanpa basa basi.
Menurut saya, Ada benarnya kata si B, karna cari duit itu emang susah walaupun udah kerja, karna biaya hidup saat kerja itu juga naik, besin, makan siang, minyak wangi, dan segala tetek bengek lainya. Kebutuhan nambah dan di pas-paskan untuk keperluan-lainya. Semuanya yang dulu biasa aja bisa jadi berubah karna punya duit. Sedangkan si A, yang penting cari wawasan dulu karna rejeki gak lari kemana. Menurut saya kata-kata rejeki gak lari kemana itu bisa saja dijawab si B kalau wawasan itu gak lari kemana karna si B emang berfikir untuk cari uang dulu. Tapi dengan pemikiran si A kalau rejeki gak lari kemana emang benar karna si A ini tipenya bersabar dulu, belajar, mencari wawasan agar kelak dia dapat kerja sesuai dengan yang di minatinya. Keduanya sah-sah sajakan..
Seharusnya si B itu jadi pebisnis, pengusaha karna tipe si B ini seakan akan berusaha keras untuk mencari materi jadi akan lebih baik kalau dia jadi pengusaha. Sedangkan si A yang mencari wawasan cocoknya jadi akademisi atau peneliti serta bisa jadi dosen dan mendapatkan gaji yang gede. Keduanya bisa jadi begitu....
Materi dan wawasan. Terserah kita pilih yang mana, Karna keduanya sama-sama baik. Kamu pilih yang mana?
Terima kasih untuk yang baca, kalau ada saran dan pendapat lain. Langsung aja ke kolom komentar yak.
Sekali lagi Terima kasih.

Comments