Belajar Ngopi


Ini bukan pertama kalinya diriku suka dengan kopi. Tapi ini pertama kalinya diriku ingin menjadi penikmat kopi bahkan ingin menjadi pecinta kopi.

Jalan sungai raya dalam tepatnya di jc-cafe menjadi tempat ngumpulnya GEA (artikel GEA). Malam ini aku dan efnu yang hadir dan gilang tidak dapat hadir karena dapat tugas lembur dari kantornya. Seperti biasa, di cafe itu kita main catur dan memesan kopi. Ketika kami memesan kopi aku meminta untuk tidak pakai gula. Bang Efnu meragukan aku dengan bertanya "yakin?". Bersemangat aku meyakinkan beliau bahwa diriku ingin menjadi penikmat kopi.

Ide untuk minum kopi tanpa campur pemanis itu aku dapatkan dari teman kuliahku. Setelah kami nonton di youtube tentang coffee story yang di adakan kompas tv, teman kuliahku bilang penikmat kopi ataupun pecinta kopi sejati itu minumnya tanpa campur gula. Kita pikir itu pasti pahit tapi begitulah mereka katakan dengan selera dengan cita rasa yang alami dari kopi.

 begitu juga dengan selera bang Efnu. Beliau lebih memilih kopi bubuk dibandingkan kopi yang sudah disaring. Katanya kopi saring itu terlalu asam. Bandingkan dengan kopi bubuk, rasa pahit dan asamnya itu cukup pas untuk dilidah kita.

Sebagai pemula dalam penikmat kopi aku ikut-ikut saja. Syukurlah, temanku itu tidak jahil. Jika mereka mengerti aku itu orangnya suka ngekor saja. Maka air parit yang hitamnya sama pekat seperti kopi yang disuguhkan kepadaku, sudah pasti kuminum air parit itu.

Pada dasarnya kopi bubuk yang selalu menemaniku di pagi hari. Kopi juga yang menemaniku dimalam hari saat sedang mengerjakan revisi skripsi. Itu adalah sedikit cerita mengapa aku terbiasa dengan kopi.

Kembali ke eksperimen kopi tanpa gula bersama efnu di cafe. Baru saja pion putih melangkah kopi hitam kami sudah sampai di meja. Sebelum mencoba aku sering menghirup aroma kopi. Tibalah waktunya mencoba. Untuk dapat merasakan kopi, biarkan seruputan pertama berada pada mulut kita dalam waktu tiga sampai lima detik agar lidah kita dapat bekerja secara maksimal, kalau gak salah begitu kata Adi Taroepratjeka. Kalian tau rasanya? ya, pahit men.

Aku tidak tahu ini jenis kopi apa. Pelayan cafe itu juga tidak mengerti tentang kopi apa yang disediakan di cafenya. Jenis arabika atau robusta atau campuran keduanya. Aku pun belum dapat membedakannya. Namun yang jelas kopi yang ada dihadapanku itu bubuknya lebih halus sebelum kami aduk.

Sambil main catur dengan posisi putih sedikit lebih unggul. Kopi tadipun semakin dingin, mungkin ini karena cuaca malam di kubu raya yang sepertinya mau hujan tapi ndak jadi hujan. Ketika kopi itu mulai dingin, rasa dari asam kopi itu mulai lebih terasa. Bayangkan rasa asam yang mulai meningkat sedangkan rasa pahitnya juga gak kalah hebatnya. Mungkin rasa itu juga bisa war ya. (sama kaya rasa friendzone yang dulunya sering perang, asem, pait men)

Walaupun pahit tetapi bawaanya segar. Semangat, tapi ndak tau ini semangat positif atau negatif. Jikapun itu negatif mungkin semangat itu karena penyesalan.

Jadi dapat disarankan untuk menikmati kopi tanpa gula seharusnya jangan langsung menghilangkan pemanis rasa. Lebih baik takaran gulanya dikurangi saja, Satu lagi, pastikan sudah makan. Karena ketika mencoba ide ini aku cuma makan roti dan pastinya itu tidak kenyang bagi orang yang baru pulang kerja. Sungguh menyiksa diri.

Begitulah, tujuannya adalah ingin menjadi penikmat kopi dan pencinta kopi yang dapat merasakan nikmatnya kopi alami.

2 comments:

  1. Woooh, udah mulai ngopi pahit nih bang? Gak sekalian kopi pancong aja? :p
    Eh iya, aku kangen sama tulisan-tulisan abang-abang GEA nih...

    ReplyDelete
  2. Oh iya nanti saya sampaikan sama bang efnu dan bang gilang. :)

    ReplyDelete

Satu hal yang anda sering dilupakan "komentar"